Kajian Agama

Apa Hukum Bunga Bank dan Kredit Dalam Islam ?

Satu Takbir | Seiring melajunya perkembangan zaman maka seiring jugalah segala hukum islam terbentuk dan terus bermunculan. Tentunya hukum-hukum yang bermunculan tersebut tidaklah terdapat dimasa saat islam baru dikenalkan dahulu. Disisi lain perkembangan cara pandang manusia terhadap sesuatu juga ikut mengalami perubahan. Oleh karenanya maka wajarlah jika kebutuhan premier dan skunder manusia terus tercipta dengan segala macam modelnya, termasuk di dalamnya adalah hal yang berkaitan dengan sistem ekonomi manusia pada bidang alat pertukaran dagang yang disebut hari ini sebagai “uang”. Untuk sub pada bidang ini saja perkembangan sistem ekonomi terus mengalami pertumbuhan dan perubahan yang signifikan. Semakin bertukarnya zaman maka semakin berubahnya model ekonomi manusia, demikianlah yang terjadi pada alat tukar dangang tersebut. Jika dahulu kita mengenal emas atau perak sebagai alat tukarnya maka sekarang lembaran kertas tipis tersebutlah yang menjadi patokannya, tentunya perkembangan model tukar ini akan terus terjadi hingga akhir zaman. 


Secara fakta, alat tukar kertas yang dikenal sebagai “uang” saat ini telah menjadi patokan utama dagang manusia dalam mengembangkan kemajuan ekonomi, oleh karena itu wajarlah jika dibeberapa kelompok datang untuk mencoba dan membuat sebuah metode pengolahan uang kemudian menjadikan patokan utama dari uang itu sebagai mesin pencetak keuntungan lainnya. Salah satu mesin ekonomi yang dimaksudkan disini adalah “Bunga Bank” dan “Kredit”.  

Bunga Bank ataupun kredit adalah cara paling ampuh untuk menciptakan keuntungan yang dimaksudkan diatas. Dari dua cara semacam ini saja, sistem kinerja ekonomi global nominal keuangan yang diinginkan dapat dilipatkan keuntungan yang besar bahkan mungkin lebih daripada itu.

Keadaan sistem ekonomi semacam ini dalam catatan sejarah perkembangan islam sejak lama menjadi perhatian dari islam itu sendiri. Islam menilai kedua bentuk hukum tersebut sebagai satu permasalahan yang penting untuk dibahas. Itulah sebabnya sejak dimana Rasulullah hidup hingga sampai kepada masa para alim ulama telah memberikan perhatian mereka terhadap dua hukum ini, yaitu Bunga Bank dan Kredit dalam Pandangan Islam. Para Alim Ulama mengatakan, bahwa adapun Bunga Bank dan Kredit merupakan sistem dagang yang tergolong pada status non syar’i, alias “Riba”. Karena bagi mereka Bunga Bank dan Kredit mengandung unsur memberatkan sebelah pihak, padahal didalam islam dagang yang sesuai dengan anjuran syar’i adalah saling menguntungkan dan jika rugi adalah sama-sama merasakan kerugian. Oleh karena itu, jika Bunga Bank dan Kredit menurut ulama yang sepakat menyimpulkan hal ini adalah Riba maka setiap yang riba adalah haram alhasil maka bermula Bunga Bank dan Kredit tersebut adalah berhukum haram.  

Alasan pengharaman Bunga Bank dan Kredit yang telah disimpulkan oleh para alim ulama tentunya terdapat beberapa alasan,  selain pada alasan yang telah disebtukan diatas Bunga Bank dan Kredit juga merupakan sistem dagang bersayarat. Contohnya seperti sang pemilik utang yang memberi utang dengan kadar 100 kepada peminta utang dalam tempo pengembalian utang adalah satu minggu maka saat masa tempo telah habis pinjaman ini menjadi bersyarat 130 atau lebih. Cara seperti ini tentunya didalam islam sangatlah tidak dianjurkan, baikkah ia itu hutang, berjualan ataupun saling tukar menukar barang sesuatu jika bersyarat maka tidak dibolehkan. Demikianlah yang terjadi pada Bunga Bank dan Kredit saat ini, didalam islam sistem dagang semacam ini tentunya tergolong sama seperti riba.

Didalam Al-Qur’an sendiri Allah menyebut kata “Riba” sebanyak 8 kali dalam 6 ayat. Semuanya dibahaskan pada katagori haram dan perbuatan dosa. Allah SWT berfirman :

“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Ar-Rum : 39)

Dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (An-Nisa : 161)

Rasulullah SAW menyatakan perang kepada riba dan orang-orang yang memungut riba, disamping menjelaskan bahaya riba bagi masyarakat, beliau bersabda :

“Apabila riba dan zina sudah merajalela di suatu negri, maka mereka telah menghalalkan dirinya untuk menerima adzab Allah”.[1]

Para ulama memandang riba adalah sebagai jalan mengambil keuntungan sebalah pihak yang dapat merugikan ataupun memberatkan pihak lainnya maka hukumnya sangat diharamkan.

Abuya Syeikh Muda Waly didalam kitabnya pernah memberi fatwa masalah ke-riba-an pada Bunga Bank dan Kredit sebagai berikut[2] :

“Hukum koprasi simpan pinjam adalah haram karena Tahquq (sudah pasti) padanya (terdapat) Riba Qardhi[3] atau Raswah[4], jalan tahquqnya dengan (petunjuk) dalil dibawah ini :
Dan dari Abi Burdah bin Abi Musa Telah berkata, saat aku dimadinah aku bertemu dengan Abdullah bin Salam maka dia berkata kepadaku, sesungguhnya sebab tanah itu riba yang telah tersebar maka apabila datang bagimu atas seseorang yang membenarkan maka beri petunjuk olehmu bawalah buah tin, biji gandum, atau membawa qut[5], (untuk zakat) maka janganlah kamu mengambilnya karena hal itu adalah riba. (Hadist Bukhari Muslim)
Adapun mengenai Hukum Uang Jasa Koprasi adalah Haram. Sepertimana yang telah dijelaskan pada hadist diatas.”
Para Imam Mufassirin memandang ayat al-Qur’an Riba diatas, apakah itu pada katagori Bunga Bank ataupun Kredit yang memiliki konsep keuntungan sebelah pihak adalah jelas sangat diharamkan karena hal tersebut termasuk اَضْعَفًا مُضَعَفَةً (...dengan berlipat ganda...-Q.S al-Imran : 153-). Ini adalah “Illat” atau alasan yang menjadi diharamkannya riba menurut Para Mufassirin Qur’an, diantara ulama tafsir yang memberikan fatwa haram dengan illat riba diatas adalah :
a.              Imam Fakhrur Razi (Tafsir Fakhrur Razi, Jilid 7, hal. 4)
b.              Imam Ibnu Katsir (Tafsir Qur’anul Adhim : Jilid I)
c.              Imam Tafsir Al-Maraghi (Tafsir Al-Maraghi : Jilid , hal. 37)
d.              Imam Ibnu Jarir (Tafsir Al-Maraghi : Jilid , hal. 37)
e.              Imam Ar-Razi (Tafsir Al-Maraghi : Jilid , hal. 37)
f.               Imam Ibnu Abbas (Tafsir Al-Maraghi : Jilid , hal. 38)
Para Ulama fiqih seluruhnya sepakat mengenai makna keharaman riba diatas, Syeikh Dr. Yusuf Qhardawi mengatakan bahwa Riba termasuk didalamnya masalah Kredit adalah diharamkan, alasannya adalah karena terdapatnya sifat “Ziyadah”, yaitu mengambil keuntungan sebelah pihak.[6]
Dalam hal ini para ulama fiqih merincikan model cara-cara dagang yang termasuk riba yang sangat diharamkan. Ada banyak kitab yang dapat menjadi rujukan pembahasan mengenai hal itu, salah satunya adalah berasal dari Syeikh Muhammad Al-Marsafi, beliau membuat 3 klasifikasi sistem ekonomi riba sebagai berikut[7] :
a.  Riba Al-Fahli : Yaitu tukar menukar dengan dua barang yang sama namun tidak sama takaran timbangan dan ukurannya.
Contohnya seperti menukar emas dengan emas ataupun perak dengan perak, beras dengan beras, gandum dengan gandum yang keduanya tidak sama harga dan ukurannya.
b.  Riba Al-Yad : Yaitu berpisah tempat akad (jual beli) sebelum pastinya pembelian atau pembatalan.
Contohnya seperti si penjual dengan pembeli masih dalam proses satu akad barang, lalu si penjual menjual barang yang masih dalam akad tersebut kepada pembeli yang lain tanpa ada persetujuan ataupun kepastian “beli” atau “batal” dari si pembeli.
c. Riba An-Nasa : Yaitu penukaran dua barang yang sejenis ataupun tidak sejenis dengan syarat dibebrikan keuntungan yang lebih.
Contohnya seperti dua orang yang saling menukarkan barang dengan dua jenis barang yang berkualias namun beda produksinya dengan melebihkan harga pada satu pihak kepada yang lainnya.
Imam Taqiyatut Dhin Al-Mukmin dalam kitabnya menambahkan satu klasifikasi lagi menjadi 4 bahagian, yaitu Riba Al-Qharhi, yaitu pinjaman piutang yang mensyaratkan sebelah pihak.[8] Atau bahasa lainnya adalah sistem kredit uang. Imam Taqiyatu Dhin mengatakan model dagang semacam ini termasuk hal yang di haramkan didalam islam.   
Makna riba tidak hanya digolongkan pada penjelasan sebelumnya diatas namun makna riba juga berarti, “Suatu benda yang didapat dari hasil pencurian, pemaksaan, dan mengambil sesuatu dari hak harta orang lain juga digolongkan kepada hukum riba. Rasulullah SAW bersabda :
“Barangsiapa membeli barang curian sedangkan dia tahu bahwa itu hasil curian, maka sesungguhnya dia telah bersekutu di dalam dosa dan aibnya”.[9]

Dari seluruh gambaran singkat yang telah dijelaskan diatas bahwa Hukum Bunga Bank atau Kredit adalah haram. Keharaman ini berdasarkan pada beberapa illat atau alasan tertentu yang dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Bunga Bank dan Kredit adalah Haram jika didalamnya terdapat penambahan atau keuntungan oleh sebahagian pihak.

b. Bunga Bank dan Kredit adalah Haram jika dapat memberatkan pihak yang lain.

c. Bunga Bank dan Kredit adalah Haram jika terdapat kecurangan, baik pencurian, pengolahan antara haram dan halal ataupun campuran dua jenis barang yang tak seimbang.

d. Bunga Bank Kredit adalah Haram jika terdapat didalamnya sifat ba’i bersyarat.

Penjelasan diatas telah kita ungkapkan bahwa Bunga Bank dan Kredit terdapat sisi illat yang menjadi diharamkan. Namun perlu diketahui bahwa diantara para ulama yang berpendapat bahwa riba diatas adalah haram terdapat beberapa ulama lain yang membolehkannya. Perbedaan pendapat ini tentunya hanya terjadi pada Hukum Furu’iyyah (hukum cabang keislaman) bukan pada Hukum Asal-nya (dalil dasar). Itulah sebabnya mengapa hukum fiqih selalu mempunyai klasifikasi hukum hujjah yang berbeda. Setiap hukum islam ataupun dalil punya hukum cabang jika selama hukum itu tidak tertera dalil yang menunjukkan kepada makna khusus. Artinya selama ada dalil yang bersifat umum maka selama itu juga terjadinya hukum-hukum Furu’iyyah-nya. Seperti contoh Bunga Bank dan Kredit. Jika Bunga Bank dan Kredit tidak disebutkan secara sharih (jelas) di dalam dalil maka ia memiliki cabang hukum. Adapun hukum cabang ini bisa jadi ia haram, makruh ataupun halal. Inilah sebabnya mengapa Imam Syafi’i mengatakan dalam Qaedahnya  :

اَلحُكْمُ يَدُوْرُ مَعَ اْلعِلَّةِ وُجُوْدًا وَعَدَمًا
Hukum itu berkisar dengan illatnya / alasannya, ada atau tidak ada

Kaedah hukum ini memberi isyarat bahwa selama tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa segala hukum dalam syariat bisa berubah-berubah tergantung pada illat (alasan/sebab) hukumnya. Seperti contoh babi yang diharamkan dalam islam, memakan babi dibolehkan jika memiliki illat memadharatkannya lain, maka demikian halnya yang terjadi pada Bunga Bank ataupun Kredit. Oleh karena itu sistem bai’ dari Bunga Bank dan Kredit tersebut selain keduanya memiliki unsur keharamannya (sepertimana yang telah dijelaskan diatas), di sisi lain ia memiliki hukum dibolehkan ataupun halal.

Adapun diantara Ulama-ulama yang membolehkan Bunga Bank dan Kredit ini diantaranya adalah  sebagai berikut :

a.   Abuya Prof. Dr. Tgk. H. Muhibbuddin Waly Al-Khalidy[10]

Pertama : Bunga Bank yang dihasilkan dari bank adalah dibolehkan selama hubungan bank konvesional   dengan nasabah bukan masalah utang piutang.

Kedua : Bunga Bank bisa dipakai jika Bank meniatkan semata hadiah kepada Nasabah, karena Bank telah memakai uang nasabah untuk diputar kembali.

Ketiga : Pemutaran uang yang dimaksudkan adalah untuk keperluan membantu terbukanya bagi lapangan kerja yang lainnya.

Keempat : Bunga Bank dan Kredit boleh dipakai selama dalam keadaan dharurat.

Kelima : Kredit digunakan jika antara kedua belah pihak saling meridhai dan tidak bersayarat saat akad ataupun setelahnya.

Keenam : Kredit bisa dipakai jika nominal patokan barang dengan sekala kecil yang tidak memberatkan.

b.   Dr. Yusuf Qhardawi[11]

Beliau menyatakan bahwa Hukum Bunga Bank dan Kredit boleh digunakan selama memenuhi 4 syarat berikut :

Pertama : Adanya keadaan darurat yang sebenarnya. Bukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kedua : Hanya untuk kebutuhan yang mencukupi baginya sekedarnya saja dan tidak lebih dari itu.

Ketiga : Terdapatnya usaha dijalan lain untuk mencukupi ekonominya. Tidak boleh bertumpu selalu pada hal riba.

Keempat : Ia dipenuhi dengan perasaan yang gelisah dan takut saat melakukannya.

c. Golongan Ulama Besar Fiqih, seperti para Imam As-Syafi’iyyah, Hanafiyah, Zaid bin Ali, Al-Muayyad Billah, dan ulama yang lain mengatakan bahwa menjual bertempo dengan menaikkan harga (termasuk kredit) adalah dibolehkan dengan alasan sebagai berikut[12] :

1.  Karena hal tersebut tidak terdapat dalil khusus yang menerangkannya

2.  Kedua belah pihak tidak ber-eksploitasi atau saling mendhalimi

3.  Dalam keadaan dharurat.

4.  Tidak memberatkan antara kedua belah pihak.

Inilah beberapa penjelasan mengenai hukum Bunga Bank dan Kredit dalam Prespektif Hukum Islam. Semoga kita selalu dalam rahmat Allah SWT.

 Sumber : 
Tgk. Habibie M. Waly S.TH




           


[1] Hadist ini di riwayakan oleh Al-Hakim. (Dan hadist yang semakna dengannya adalah berasal dari riwayat Abu Ya’la dengan Isnad Bagus). Takhrij no.344
[2] Kitab Al-Fatawa, Abuya Syeikh Muda Waly Al-Khalidy, Jilid I, cet. Taufiqiyah Utama Lambaro Aceh besar. Hal. 41-42
[3] Riba Qhardi adalah berhutang dengan syarat ada keuntungan bagi yang memberi hutang
[4] Riswah uang sogok atau uang suap
[5] Qut adalah sebangsa tumbuh-tumbuhan
[6] Halal dan Haram dalam Islam, Dr. Yusuf Qhardawi, cet. Rabbani Press : Jakarta, hal. 308
[7] Hasyiah Al-Bujairimi, Syeikh Al-Kabir Muhammad Al-Marsafi, Juzu : II, cet. Darul Fikri, hal. 191 (adapun contohnya adalah dari penulis)
[8] Kifayatul Akhyar, Imam Taqiyatud Dhin Abi Bakar Bin Muhammad Al-Mukmin, Juzu : 1, cet. Darul Fikri, hal. 140.  
[9] H.R Al-Baihaqi no. 343
[10] Pembahasan Masalah Agama, hal : 44-47
[11] Halal dan Haram dalam Islam”. Hal. 308
[12] Nailul Authar Juzu 5, hal. 153.

1 comment

Rossa Stanley said...

HAPPY TAHUN BARU SELAMAT TAHUN BARU SELAMAT TAHUN BARU
DARI-rossastanleyloancompany

Apakah Anda membutuhkan kredit yang mendesak?

* Sangat Cepat dan Transfer Instan ke rekening bank Anda
Bayar kembali bulan setelah Anda mendapatkan kredit Anda di bank Anda
akun bank
* Suku bunga rendah 2%
* Pengembalian jangka panjang (1-30) Panjang
* Pinjaman fleksibel dan gaji bulanan
*. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membiayai? Setelah mengajukan pinjaman
Anda mungkin mengharapkan jawaban awal kurang dari 24 jam
pembiayaan dalam 48 Jam setelah menerima informasi yang mereka butuhkan
Dari kuang Di perusahaan pinjaman ROSSA STANLEY, kami adalah perusahaan yang menyediakan fasilitas pinjaman untuk perusahaan, serius, korporat, hukum dan masyarakat dengan tingkat bunga 2%. Kami memiliki akses ke koleksi uang tunai untuk diberikan kepada perusahaan dan mereka yang memiliki rencana untuk memulai bisnis tidak peduli biaya kecil atau besar, kami menyediakan uang tunai. Yakinlah yang kesejahteraan dan Kenyamanan Anda adalah prioritas utama kami, di sini kami di sini untuk mengurus Anda.

Hubungi perusahaan pinjaman yang sah dan dapat dipercaya dengan track record layanan yang memberikan kebebasan finansial kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Untuk informasi lebih lanjut dan pinjaman yang membutuhkan untuk membangun bisnis Anda, belilah rumah, beli mobil, liburan, hubungi kami via,

E-mail Resmi: rossastanleyloancompany@gmail.com
Instagram resmi: Rossamikefavor
Twitter resmi: Rossastanlyloan
Facebook resmi: rossa stanley mendukung
CSN: +12133153118
untuk respon cepat dan cepat.
Silahkan mengisi aplikasi di bawah ini dan kami akan memanggil Anda lagi, Kami tersedia 24/7

DATA PEMOHON

1) Nama Lengkap:

2) Negara:

3) Alamat:

4) Jenis Kelamin:

5) Status Perkawinan:

6) Pekerjaan:

7) Nomor Telepon:

8) Posisi saat bekerja:

9) Penghasilan Bulanan:

10) Tingkat Pinjaman yang Dibutuhkan:

11) Durasi Pinjaman:

12) nama facebook:

13) nomor Whatsapp:

14) Agama:

15) Tanggal lahir:

SALAM,
Mrs.Rossa Stanley Favor
ROSSASTANLEYLOANCOMPANY
Email rossastanleyloancompany@gmail.com